About

Rabu, 20 Mei 2009

INSTING

Adalah insting yang menari-nari di mata lelah

untuk ga selekas ngantuk

Lihat sajalah dengan seksama:

seantero amat memicu andrenalin. Siapa tahu lorong itu menuju NIRWANA...?!

Senin, 16 Maret 2009

OCEHAN BENDERA


Jalanan makin riuh saja, oleh ocehan bendera warna warni. Nyinyir. Memaksa jenak nguping, jenak mengamati, pun jenak merobek mulutnya bila keterlaluan: bikin gaduh.

Acap kali bendera merajuk rayuan iblis, manis sekali kawan. Kita dikibulin. Beberapa berdiam diri, mematung khusyu'. Ke sana kemari disambar angin. "Mana aksimu, bung?"tanya beberapa orang berseliweran, memegang pacul. Wanita-wanita menyunggi bakul. "Kami sudah pintar, Om. Usah dikibul. Kami tahu betul, mana bendera yang tak masgul."

Jalanan makin rancak, berderet tegak. Ngoceh tentang manis madu, lihat kawan. Semua menjanjikan kemakmuran. Padahal dari puluhan tahun, kami meringkuk di buruh sawah. Nasib sama. Sama saja. Makin dicekik harga.

Bendera mengeja aneka tanya, macam mesin penjawab. Berbusa-busa. Kami hanya saja mendengar setengah rasa.

Minggu, 08 Maret 2009

Janjiku pada Bulan


Janjiku pada bulan saban malam separuh, di tengah geliat lupa-lupa ingat

Adalah menabur senyum tipis khas gadis kasmaran

Sampai ujung-ujung malam, dan mata makin sipit kepingin ngatup. Desah malam bergetar sepanjang jendela kaca, juga pohon yang memamerkan goyangan dangdut. Aku makin lupa-lupa-lupa ingat. Sepanjang duduk. Bergeletar. Dan bruk.... Aku di diskotik menikmati lagu nonstop.

Kamis, 05 Maret 2009

Teman Jauh


Sedekat-dekat teman, kedekatan macam apalagi yang ditampilkan dengan kapasitas bertatap muka beberapa jam. Menghabiskan tutur ngalor ngidul. Beberapa mungkin membahas tugas kuliah. Beberapa lupa nama lengkapnya malah. Teman jauh. Yang selamanya jauh. Aku bahkan tak mengenal mereka. Sama sekali. Namun sangat antusias bila berbicara tentang tugas. Sama saja. Di mana-mana. Teman jauh. Yang memang jauh.

Aku bahkan lebih betah berlama-lama dengan ibuku, yang nota bene ga ngeh urusan perkuliahan. Kecuali dengan dag dig dug nya menunggu kepulanganku saban maghrib.

Senin, 23 Februari 2009

Plethuk Sooko





Hari itu Ahad, tepatnya tanggal 22 Februari 2009. Cuaca agak mendung, membuatku kecut. Ke Plethuk saat hujan berarti menyiapkan diri untuk berkubang dengan lumpur. Sepatu belepotan kalau tak segera digantung. Untung prediksiku salah total. Cuaca berangsur membaik, bahkan cenderung panas.

Pagi itu Plethuk diawali dengan upacara latihan gabungan (latgab) pramuka untuk penggalang rakit sekecamatan Sooko ditambah Pudak. Semua peserta upacara berceker ria, karena hujan kemarin sore masih menyisa becek. Lucu. Itulah kesannya. Beberapa kali petugas upacara terhuyung huyung saat maju, oleh lumpur yang tercecer sepanjang jalan dan lapangan.

Di medan yang lain, yaitu di tebing curam, beberapa pecinta alam bergelantungan. Menikmati petualangan. Menantang andrenalin. Panjat tebing begitu meriah. Oleh para pecinta alam dengan potongan rambut gimbal, dan ransel gedhe. Walau tidak semuanya begitu.

Menjelang siang reog dari PGRI Sooko unjuk gigi, menampilkan kebolehannya. Warok, jathil, reog, dkk turun. Riuh. Gempita. Penonton pun membludak. Dan aku ada di bagian itu. Melihat kebudayaan seperti diputar kembali. REOG Ponorogo yang masyhur. Beberapa orang bergerombol dari perdu bebukitan nampak juga menikmati. Dari kejauhan.

Di air terjun sendiri tak kalah menariknya. Putih-putih air berhamburan, mirip salju. Dingin menelisik saat kaki bersentuhan dengan air. Dari dekat mendongak ke atas seketika berasa basah. Karena guyuran air seperti gerimis. Plethuk masih natural. Polesannya masih perlu waktu yang panjang dan tentu membutuhkan dana yang tak sedikit. Dan geliat ke arah sana nyata kelihatan. Beberapa pekerja berkubang di bawah, mengendalikan bulldozer yang menderum. Akan ada perubahan pastinya. Satu yang penting : asal lingkungan tidak menjadi korban. Biarkan alam menyajikan kecantikannya, tak perlu dirusak dengan dalih untuk kebaikan. Semoga.

Sabtu, 21 Februari 2009

Spirit Never DIE

Ketika tekad memberangus di dada, maka tak ada lagi yang mengalahkan. Semua aral menjadi sebuah "batu kecil" yang melintas di jalan aspal. Kelihatan kerdil. Dan memang membiarkan kita melesat ke tanjakan selanjutnya. Tekad itu spirit. Spirit yang tak kan pernah mati.

Seorang kawan, namanya Sastro ( bukan sebenarnya ). Ia kawanku kuliah di Unmuh Ponorogo. Berbekal satu kata "nekad", ia melalui terjal-terjal kesehariannya di rumah kakek tua. Nderek. Kakek tua yang bawel, dan penuh peraturan. Yang ditinggal anak-anaknya oleh karena keadaan mengharuskan demikian. Pekerjaan kadang membelenggu seseorang untuk melanglang jauh. Meninggalkan kampung halaman, melepas orang tua yang sendirian. Kesepian. Dan Sastro lah yang menemani keseharian kakek itu. Sampai ajal menjemput, demikian perjanjian anak-anaknya dengan Sastro. Tentu dengan imbalan yang pantas: Sastro bisa kuliah dengan keterbatasan dana. Nekad mengantarnya ke jenjang lebih tinggi, seperti juga impiannya yang tak pernah berhenti.

Ini kawanku sekelas yang berbeda lagi, sebut saja Miko. Tentu bukan aslinya. Ia aktif dalam organisasi. Nyambi kerja dengan ngeles anak-anak SD. Semua waktunya padat, namun tetap saja biaya kuliah membelitnya di akhir semester awal. Waktu itu rame-ramenya ngambil IP,dan ia begitu menderitanya hanya jadi penonton, karena administrasi menghalanginya untuk menikmati hasil ujiannya. Belum lunas berarti menyiapkan diri jadi buronan. Seperti dikejar-kejar sesuatu. Dan nyatanya memang tanggungan mengganggu tidur nyenyaknya. Ia juga tak berhenti sebenarnya, beberapa hari mengorbankan tubuhnya dengan lembur di sana sini. Masalah belum selesai. Biaya terlalu banyak. Padahal teman yang lain sudah sibuk pemrograman semester dua. Namun tekadnya tak kerdil. Di sore yang basah, ia mengirim SMS kepadaku: "motorku ilang". Dan aku dengan pendek menjawab: "Ga apa-apa. Yang penting jalan terus." Ia menjual motornya, yang biasa mengawalnya berpetualang. Ia mengorbankan sesuatu yang benar. Pendidikan mahal, untuk siapapun yang merasa tak mampu. Namun ketakmampuan pun bisa dipadamnkan dengan satu tekad yang tidak cemen. Spirit.

Ketangguhan seseorang melawan keapaadanyaan. Pada akhirnya endingnya ada 2 : happy or sad. Tentu semua orang kepingin happy ending, seperti film India itu. Spirit. Tekad akan merubah krisis menjadi solusi. Semoga.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls