untuk ga selekas ngantuk
Lihat sajalah dengan seksama:
seantero amat memicu andrenalin. Siapa tahu lorong itu menuju NIRWANA...?!
Karena angka adalah PENANDA, dan aku adalah KATA...
untuk ga selekas ngantuk
Lihat sajalah dengan seksama:
seantero amat memicu andrenalin. Siapa tahu lorong itu menuju NIRWANA...?!

Acap kali bendera merajuk rayuan iblis, manis sekali kawan. Kita dikibulin. Beberapa berdiam diri, mematung khusyu'. Ke sana kemari disambar angin. "Mana aksimu, bung?"tanya beberapa orang berseliweran, memegang pacul. Wanita-wanita menyunggi bakul. "Kami sudah pintar, Om. Usah dikibul. Kami tahu betul, mana bendera yang tak masgul."
Jalanan makin rancak, berderet tegak. Ngoceh tentang manis madu, lihat kawan. Semua menjanjikan kemakmuran. Padahal dari puluhan tahun, kami meringkuk di buruh sawah. Nasib sama. Sama saja. Makin dicekik harga.
Bendera mengeja aneka tanya, macam mesin penjawab. Berbusa-busa. Kami hanya saja mendengar setengah rasa.

Adalah menabur senyum tipis khas gadis kasmaran
Sampai ujung-ujung malam, dan mata makin sipit kepingin ngatup. Desah malam bergetar sepanjang jendela kaca, juga pohon yang memamerkan goyangan dangdut. Aku makin lupa-lupa-lupa ingat. Sepanjang duduk. Bergeletar. Dan bruk.... Aku di diskotik menikmati lagu nonstop.

Aku bahkan lebih betah berlama-lama dengan ibuku, yang nota bene ga ngeh urusan perkuliahan. Kecuali dengan dag dig dug nya menunggu kepulanganku saban maghrib.



Pagi itu Plethuk diawali dengan upacara latihan gabungan (latgab) pramuka untuk penggalang rakit sekecamatan Sooko ditambah Pudak. Semua peserta upacara berceker ria, karena hujan kemarin sore masih menyisa becek. Lucu. Itulah kesannya. Beberapa kali petugas upacara terhuyung huyung saat maju, oleh lumpur yang tercecer sepanjang jalan dan lapangan.
Di medan yang lain, yaitu di tebing curam, beberapa pecinta alam bergelantungan. Menikmati petualangan. Menantang andrenalin. Panjat tebing begitu meriah. Oleh para pecinta alam dengan potongan rambut gimbal, dan ransel gedhe. Walau tidak semuanya begitu.
Menjelang siang reog dari PGRI Sooko unjuk gigi, menampilkan kebolehannya. Warok, jathil, reog, dkk turun. Riuh. Gempita. Penonton pun membludak. Dan aku ada di bagian itu. Melihat kebudayaan seperti diputar kembali. REOG Ponorogo yang masyhur. Beberapa orang bergerombol dari perdu bebukitan nampak juga menikmati. Dari kejauhan.
Di air terjun sendiri tak kalah menariknya. Putih-putih air berhamburan, mirip salju. Dingin menelisik saat kaki bersentuhan dengan air. Dari dekat mendongak ke atas seketika berasa basah. Karena guyuran air seperti gerimis. Plethuk masih natural. Polesannya masih perlu waktu yang panjang dan tentu membutuhkan dana yang tak sedikit. Dan geliat ke arah sana nyata kelihatan. Beberapa pekerja berkubang di bawah, mengendalikan bulldozer yang menderum. Akan ada perubahan pastinya. Satu yang penting : asal lingkungan tidak menjadi korban. Biarkan alam menyajikan kecantikannya, tak perlu dirusak dengan dalih untuk kebaikan. Semoga.
Seorang kawan, namanya Sastro ( bukan sebenarnya ). Ia kawanku kuliah di Unmuh Ponorogo. Berbekal satu kata "nekad", ia melalui terjal-terjal kesehariannya di rumah kakek tua. Nderek. Kakek tua yang bawel, dan penuh peraturan. Yang ditinggal anak-anaknya oleh karena keadaan mengharuskan demikian. Pekerjaan kadang membelenggu seseorang untuk melanglang jauh. Meninggalkan kampung halaman, melepas orang tua yang sendirian. Kesepian. Dan Sastro lah yang menemani keseharian kakek itu. Sampai ajal menjemput, demikian perjanjian anak-anaknya dengan Sastro. Tentu dengan imbalan yang pantas: Sastro bisa kuliah dengan keterbatasan dana. Nekad mengantarnya ke jenjang lebih tinggi, seperti juga impiannya yang tak pernah berhenti.
Ini kawanku sekelas yang berbeda lagi, sebut saja Miko. Tentu bukan aslinya. Ia aktif dalam organisasi. Nyambi kerja dengan ngeles anak-anak SD. Semua waktunya padat, namun tetap saja biaya kuliah membelitnya di akhir semester awal. Waktu itu rame-ramenya ngambil IP,dan ia begitu menderitanya hanya jadi penonton, karena administrasi menghalanginya untuk menikmati hasil ujiannya. Belum lunas berarti menyiapkan diri jadi buronan. Seperti dikejar-kejar sesuatu. Dan nyatanya memang tanggungan mengganggu tidur nyenyaknya. Ia juga tak berhenti sebenarnya, beberapa hari mengorbankan tubuhnya dengan lembur di sana sini. Masalah belum selesai. Biaya terlalu banyak. Padahal teman yang lain sudah sibuk pemrograman semester dua. Namun tekadnya tak kerdil. Di sore yang basah, ia mengirim SMS kepadaku: "motorku ilang". Dan aku dengan pendek menjawab: "Ga apa-apa. Yang penting jalan terus." Ia menjual motornya, yang biasa mengawalnya berpetualang. Ia mengorbankan sesuatu yang benar. Pendidikan mahal, untuk siapapun yang merasa tak mampu. Namun ketakmampuan pun bisa dipadamnkan dengan satu tekad yang tidak cemen. Spirit.
Ketangguhan seseorang melawan keapaadanyaan. Pada akhirnya endingnya ada 2 : happy or sad. Tentu semua orang kepingin happy ending, seperti film India itu. Spirit. Tekad akan merubah krisis menjadi solusi. Semoga.