About

Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Semudah Selulit

Kira-kira kedatangan malaikat, benar-benar nikmat. Waktu yang tepat. Sebuah obrolan ringan, berakhir 'berikan nomer rekeningmu'. Ada kemudahan memeluk galau. Saat-saat tumpah air mata tak membilas luka. Pada kecewaku akan apalah. Hanyalah sembilu. Sendiri mendekam sekam. Dan kau seperti yang sudah-sudah. Mengirim angin rindu makin kecamuk. Adalah kita. Memang ditakdirkan saling melengkapi. Dan kepalaku jadi seringan bermimpi..

Sabtu, 11 Februari 2012

Aku Memang Pengecut



lagu-lagu mendengung di tiap keberanjak berdiri
meniti jalanan yang ia takutkan akan duri-duri dan sial

“bukankah kutak membuntu jalan beranting seribu? Dan kau tak lelah mengolokku pengecut. Sedang kau sama sekali tak bergeser dari berdiri” bisikku padanya yang makin jauh.

gerbang langit mendendang syair matahari, mengirimku sebait kata yang dicuil dari sebongkah awan biru
Saat itu yang kulihat mentari masih bertengger di ufuk
berbagi desah tentang arti kekuatan dan bertahan

Rabu, 20 Mei 2009

INSTING

Adalah insting yang menari-nari di mata lelah

untuk ga selekas ngantuk

Lihat sajalah dengan seksama:

seantero amat memicu andrenalin. Siapa tahu lorong itu menuju NIRWANA...?!

Minggu, 08 Maret 2009

Janjiku pada Bulan


Janjiku pada bulan saban malam separuh, di tengah geliat lupa-lupa ingat

Adalah menabur senyum tipis khas gadis kasmaran

Sampai ujung-ujung malam, dan mata makin sipit kepingin ngatup. Desah malam bergetar sepanjang jendela kaca, juga pohon yang memamerkan goyangan dangdut. Aku makin lupa-lupa-lupa ingat. Sepanjang duduk. Bergeletar. Dan bruk.... Aku di diskotik menikmati lagu nonstop.

Selasa, 16 Desember 2008

Hijau

Kuncup kupu kupu mekar di lapangan sepak bola. Ditemani ribuan semut rangrang berpesta di sepotong roti bakar.

Ini lapangan kita ya? Jangan dilepaskan pada domba. Kita jaga tentang rumput juga dua gawang dari bambu tua. Kita jaga sampai terluka.

Manusia Masa kini

Manusia yang masa kini entah direcoki virus apa hingga lupa tempat memijak. Di antara gedung pencakar langit yang tak pernah melampaui langit, apertemen mewah penuh cewek seksi.

Aaah…ini penyejuk otak, untuk refresh kepenatan” dalih sebagian orang tentang godaan. Lantas siapa yang perlu peduli tentang keberadaan acakadul bumi”?

biarlah para ilmuwan menemu anti virus para manusia penuh luka, entah di lutut, pusarnya. Kita lihat ke depan, akan ke mana dunia ini dihantarkan. Apa perlu kita merunut asal muasal kita menurut Darwin. Iiih…kita dari monyet??

Masalah

Tiap jeda menyandung masalah. Di depan berdentum dentum suara keras, mengundang masalah. Di belakang sengaunya masih terdengar lamat lamat. Aah…kau ngaku pemecah masalah, lantas kenapa kau banting hatiku sepanjang pekan, dengan hardik keras khas preman. Kau juga memang bermasalah…

Mengertilah

Mengenai kecewaku pada ketakjujuran, mengertilah.
Tentang jiwa jiwa meronta oleh jerat kemiskinan, mengertilah.
Kami hanya bisa menghiba teriak ” Kami orang bawah yang menggelinjang hebat, perut kosong kami menyeret hampir ke kekafiran. Sekantong beras seolah emas di mata kami. Adakah yang mengerti welas mata kami, yang sudah hampir tak berair, kami meminumnya untuk anak anak penuh panu di punggung. Mengertilah bila kebodohan mencekik otak, jangan menambah dengan hitungan pajak tinggi, sembako melonjak.”
Kami orang bawah yang senantiasa menyeret kemiskinan di bayang bayang, mengikutnya layak kekasih.

Jatuh Bangun Cinta

Jatuh pada titik ketinggian seberapa berpengaruh pada rasa yang ditimbulkan. Bila angka2 berhamburan adalah pilihan kejatuhan mungkin pilihan terarah pada angka terendah, dengan resiko luka tak parah. Jatuh di ketinggian numerik tertentu menyebabkan kaki patah, mungkin juga kehilangan tangan. Jatuh itu mungkin turun seperti daun layu, air terjun berlimpahan, atau hujan air yg menyileti tubuh dng kekuyupan.

Sedang bangun itu bangkit, berdiri untuk bersikap mengokohkan. Semisal bangunan ia makin kuat oleh fondasi dan batu bata yg tersusun rapi, menjelma rumah yg penuh keceriaan. Bangun itu mungkin juga mendaki ke impian seperti bayi yg belajar berjalan dng tatihan, anak muda yg memetik buah bintang, nenek yg mempertahankan tongkatnya.

Jatuh cinta atau bangun cinta? Entah pilihan yang menusuk otakku beberapa kali. Letih sudah terjatuh pd cinta konyol penuh bullshit, masa intrik remaja yg terlewati. Dan pilihan yg berteriak di dasar kedewasaan masih labil adalah membangun cinta. Bukan hanya sekedar permainan ombak rasa yg bergulung gulung hendak menelan mangsa.

Kamis, 16 Oktober 2008

Mengenai Kecewa dan Senyum Matahari

Di usia abad abad lelehan serat panjang, matahari masih saja selembut itu. Aku juga rasakan dengan kebingungan, "angin menderu badai juga, ombak ngamuk rumah, pun tanah nganga lobang gempa tektonik." Tapi matahari masih saja ramah pada daun, manusia rakus, bibir gunung.

Aku tak dapat membayangkan kekecewaan matahari dalam leleh paling panasnya, di perkasanya menekan amarah.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls